“Dokter, apa itu Myobrace?” Pertanyaan ini wajar muncul, terutama jika Anda baru mendengar istilah ini saat pemeriksaan rutin di klinik. Mungkin dokter gigi menyampaikannya karena melihat kondisi gigi si kecil mulai tidak rapi, atau Anda sendiri yang khawatir melihat perkembangan rahang dan gigi anak yang tidak sesuai usianya. Kekhawatiran soal kondisi gigi anak bukan hal yang boleh ditunda, karena penanganan dini membuka peluang hasil perawatan yang jauh lebih optimal.
Artikel ini akan menjelaskan secara jelas apa itu myobrace, bagaimana terapi ini bekerja secara bertahap, siapa yang paling tepat menggunakannya, dan kapan waktu terbaik untuk memulai berkonsultasi. Satu hal yang perlu Anda ketahui sejak awal: semakin cepat kondisi gigi anak ditangani, semakin besar peluang rahang tumbuh optimal secara alami tanpa intervensi yang lebih kompleks di kemudian hari.
Apa Itu Myobrace dan Mengapa Berbeda dari Kawat Gigi
Myobrace adalah alat ortodontik lepasan berbahan silikon lembut yang dirancang untuk merapikan gigi sekaligus memperbaiki kebiasaan mulut yang menjadi penyebab utama masalah gigi anak. Dalam dunia medis kedokteran gigi, myobrace ini juga disebut myofunctional orthodontics. Berbeda dari kawat gigi tradisional yang bekerja dengan mendorong gigi ke posisi yang diinginkan setelah masalah terjadi, pendekatan myobrace bekerja untuk mengoreksi pola otot, posisi lidah, dan cara bernapas anak sejak dini. Ini bukan sekadar alat ortodonti biasa; ini sistem terapi yang memperbaiki akar masalah secara langsung.
Sistem ini dikembangkan oleh dr. Chris Farrell, dokter gigi asal Australia yang mendirikan Myofunctional Research Co. (MRC) pada 1989. Ia menemukan bahwa sebagian besar masalah perkembangan rahang dan gigi bukan semata-mata soal genetik, melainkan dipicu oleh kebiasaan-kebiasaan mulut yang terbentuk sejak kecil dan tidak pernah dikoreksi. Hari ini, sistem myobrace telah digunakan dalam perawatan ortodontik di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia melalui klinik berlisensi resmi. Perawatan ini paling ideal dimulai pada usia 6 hingga 12 tahun, selama gigi susu anak masih ada atau gigi tetapnya belum tumbuh sempurna, karena di fase inilah rahang tumbuh aktif dan paling responsif terhadap perbaikan.
Kebiasaan Mulut yang Diam-Diam Merusak Pertumbuhan Rahang Anak
Banyak orang tua tidak menyadari bahwa gigi berjejal atau rahang yang sempit seringkali bukan soal keturunan semata. Data kesehatan gigi di Indonesia menunjukkan prevalensi maloklusi atau kondisi gigi dan rahang yang tidak sejajar, mencapai sekitar 80% dari total penduduk, jauh di atas rata-rata global sebesar 56% (Farani & Abdillah, Insisiva Dental Journal, 2021). Angka setinggi ini mengisyaratkan bahwa ada faktor lain yang berperan besar: kebiasaan mulut yang salah dan terus berulang sejak masa kanak-kanak.
Myobrace membantu mengoreksi lima kebiasaan utama yang paling sering memengaruhi perkembangan rahang dan gigi anak. Pertama, anak bernapas lewat mulut secara rutin, ketika ini terjadi terus-menerus, lengkung rahang atas tumbuh sempit dan gigi permanen kekurangan ruang, sebagaimana dikonfirmasi tinjauan sistematis dari 10 studi klinis dalam BMC Oral Health (Zhao et al., 2021). Kedua, posisi lidah yang salah saat beristirahat; lidah yang tidak menempel di langit-langit atas gagal membentuk tekanan yang dibutuhkan rahang untuk berkembang secara optimal. Ketiga, cara menelan yang keliru di mana lidah mendorong gigi ke depan setiap kali menelan, tekanan kecil yang terus berulang ratusan kali per hari ini lama-kelamaan mengubah posisi gigi secara permanen. Keempat, mengisap jempol terlalu lama melewati usia tiga tahun, yang menciptakan tekanan asimetris pada lengkung gigi yang masih lunak. Kelima, mengunyah hanya satu sisi, yang memengaruhi keseimbangan otot wajah dan simetri pertumbuhan rahang. Selama kebiasaan-kebiasaan ini tidak dikoreksi, bahkan kawat gigi tradisional pun tidak akan memberikan hasil yang stabil dan permanen.
Bagaimana Fungsi Myobrace Bekerja, 4 Tahap yang Saling Menopang
Perawatan myobrace bukan sekadar memakai satu alat lalu selesai. Ini adalah proses bertahap yang terstruktur, di mana setiap fase memiliki tujuan spesifik dan saling menopang satu sama lain. Dokter akan memantau perkembangan pasien secara berkala dan menyesuaikan rencana perawatan sesuai respons tubuh si kecil di setiap tahap.
Tahap 1: Koreksi Kebiasaan
Ini adalah fondasi dari seluruh terapi. Pada rutinitas harian, Anak dianjurkan menggunakan peranti seri lembut selama 1–2 jam di siang hari dan sepanjang malam saat tidur untuk penyesuaian, disertai latihan posisi lidah dan pernapasan yang diajarkan dokter gigi secara langsung. Tujuannya agar terbiasa untuk menutup bibir secara alami, mengurangi gangguan seperti mendengkur, dan mendorong pernapasan lewat hidung sebagai kebiasaan baru.
Tahap 2: Perkembangan Lengkung Gigi
Setelah kebiasaan mulai berubah, peranti secara bertahap menciptakan ruang bagi gigi permanen agar tumbuh di posisi yang benar, tanpa perlu pencabutan gigi. Fase ini adalah kunci pencegahan masalah gigi dan rahang yang lebih kompleks di masa depan, sekaligus langkah awal membentuk lengkung rahang yang lebih lebar dan simetris.
Tahap 3: Penyelarasan Gigi
Gigi yang sudah memiliki ruang cukup diarahkan ke posisi optimal secara perlahan. Fase ini merapikan posisi gigi dengan cara yang mirip fungsi kawat gigi, namun tanpa bracket yang menempel permanen sehingga lebih nyaman untuk anak dalam proses adaptasi.
Tahap 4: Menjaga Hasil (Retensi)
Setelah posisi gigi ideal tercapai, pemakaian alat di malam hari dilanjutkan untuk menjaga hasil tetap stabil jangka panjang dan mencegah gigi kembali ke posisi semula. Alat wajib dibersihkan setiap hari agar menjaga kebersihan optimal dan tidak menimbulkan masalah baru pada gigi dan gusi. Perawatan jangka lanjutan ini penting agar seluruh manfaat terapi dapat dipertahankan secara permanen selama durasi yang direkomendasikan dokter. Penelitian dalam International Journal of Clinical Pediatric Dentistry (2025) mengonfirmasi bahwa penggunaan myobrace secara konsisten terbukti memperbaiki kebiasaan mulut, mengurangi risiko gigi berjejal, dan menghasilkan perkembangan rahang yang lebih baik pada anak usia 6–10 tahun.
Tanda-Tanda Anak Perlu Segera Dievaluasi
Banyak orang tua menunggu semua gigi permanen tumbuh sebelum berkonsultasi ke klinik, dan ini adalah kekeliruan yang sering kali mahal konsekuensinya. Tinjauan dalam Frontiers in Public Health (Lin et al., 2022) menegaskan bahwa bernapas lewat mulut yang tidak dikoreksi dapat menyebabkan rahang tumbuh sempit secara permanen, mempengaruhi estetika wajah, dan meningkatkan risiko gigi berjejal yang lebih kompleks. Artinya, menunggu bukan pilihan yang aman ketika tanda-tanda awal sudah terlihat.
Ada beberapa gejala yang perlu Anda perhatikan sebagai tanda-tanda anak perlu segera mendapat pemeriksaan dari dokter gigi: anak bernapas lewat mulut secara rutin terutama saat tidur; sering mendengkur atau tidur dengan mulut terbuka; masih mengisap jempol di atas usia tiga tahun; gigi sulung tanggal terlalu cepat atau terlambat dari usianya; gigi atas menonjol ke depan berlebihan atau gigi bawah lebih maju; serta gigi atas dan bawah tidak bertemu saat mulut ditutup. Tanda lain yang kerap diabaikan adalah keluhan rahang sakit saat mengunyah dan wajah yang terlihat tidak simetris. Jika satu saja dari tanda-tanda ini ditemukan pada anak Anda yang gigi susunya masih ada atau gigi tetapnya belum tumbuh sempurna, disarankan untuk tidak menunda konsultasi lebih lama, karena intervensi dini pada fase pertumbuhan aktif memberikan hasil yang jauh lebih optimal dibandingkan koreksi yang dimulai ketika pertumbuhan sudah melambat.
Konsultasikan Kondisi Gigi Anak Anda di Dewi Orthodontist
Setiap anak tumbuh dengan kondisi gigi, kebiasaan oral, dan perkembangan rahang yang unik. Tidak ada dua kasus yang persis sama, dan tidak ada satu rekomendasi yang berlaku untuk semua. Yang bisa Anda lakukan hari ini adalah langkah paling sederhana sekaligus paling berdampak: membawa si kecil untuk dievaluasi lebih awal, sebelum masalah berkembang menjadi lebih kompleks dan membutuhkan penanganan yang lebih panjang.
Di Dewi Orthodontist, Tangerang Selatan BSD, tim dokter gigi kami berpengalaman dalam menangani perawatan myobrace dengan pendekatan yang terstruktur dan personal. Setiap pasien mendapat evaluasi menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kebiasaan bernapas, posisi lidah, pola menelan, hingga kondisi pertumbuhan rahang, untuk menentukan apakah myobrace adalah langkah yang tepat bagi buah hati Anda. Karena investasi terbaik untuk senyum sehat anak Anda dimulai dari satu keputusan sederhana hari ini.
Referensi
- Alomedika. Epidemiologi Maloklusi. Diakses dari https://www.alomedika.com/penyakit/kesehatan-gigi-dan-mulut/maloklusi/epidemiologi
- Farani W, Abdillah MI. Prevalensi Maloklusi Anak Usia 9–11 Tahun di SD IT Insan Utama Yogyakarta. Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva, 2021. Diakses dari https://journal.umy.ac.id/index.php/di/article/view/7534
- International Journal of Clinical Pediatric Dentistry. Role of Myobrace in Children Aged 6–10 Years, 2025. Diakses dari https://www.ijcpd.com/doi/IJCPD/pdf/10.5005/jp-journals-10005-3193
- Lin L, Zhao T, Qin D, Hua F, He H. The Impact of Mouth Breathing on Dentofacial Development: A Concise Review. Frontiers in Public Health, 2022. National Institutes of Health — PMC. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9498581/
- Myobrace by MRC. About Us — The Myobrace Treatment System. Diakses dari https://myobrace.com/en-us/about-us
- Myobrace by MRC. Proven Results — Early Orthodontic Treatment with Myobrace. Diakses dari https://myobrace.com/en-au/what-is-myobrace/proven-results
- Myobrace by MRC. See the Research — Key Published Research on Myofunctional Orthodontics. Diakses dari https://myobrace.com/en-au/what-is-myobrace/see-the-research
- Myofunctional Research Co. (MRC). About the Company. Diakses dari https://myoresearch.com/about
- National Institutes of Health — PMC. Expert Consensus on Pediatric Orthodontic Therapies of Malocclusions in Children, 2024. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11021504/
- National Institutes of Health — PMC. Oral Breathing Effects on Malocclusions and Mandibular Posture: Complex Consequences on Dentofacial Development in Pediatric Orthodontics, 2025. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11763795/
- National Institutes of Health — PMC. The Effects of Orofacial Myofunctional Therapy on Children with OSAHS’s Craniomaxillofacial Growth: A Systematic Review, 2023. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10136844/
- Zhao Z, Zheng L, Huang X, Li C, Liu J, Hu Y. Effects of Mouth Breathing on Facial Skeletal Development in Children: A Systematic Review and Meta-Analysis. BMC Oral Health, 2021. Diakses dari https://doi.org/10.1186/s12903-021-01458-7



